Rabu, 09 Maret 2011

Tentang Taqwa Kepada Alloh SWT

TAQWA
Agus Priyatmono *)

Taqwa adalah kata yang sudah umum kita dengar dan sangat familiar baik di dunia keagamaan maupun pendidikan. Tapi alangkah baiknya kita sedikit kita kupas makna dari kata taqwa itu. Taqwa mengandung pengertian yang berbeda-beda di kalangan ulama, namun semuanya bermuara pada satu pengertian yaitu :
Seorang hamba melindungi dirinya dari kemurkaan Allah ˜azza wa jalla dan juga siksaNya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarangNya.

Afif Abdulullah Al Fahah Thabbarah mengatakan Taqwa adalah seorang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Allah dan dari segala sesuatu yang mendatangkan mudharat baik dirinya maupun orang lain.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata bahwa asal taqwa adalah seorang hamba membuat pelindung yang melindungi dirinya dari hal-hal yang ditakuti.

Jadi ketaqwaan seseorang hamba kepada Rabnya adalah ia melindungi dirinya dari hal-hal yang dia takuti, yang dating dari Allah berupa kemurkaan dan azabNya yaitu melakukan ketaatan kepadaNya dan menjauhi kemaksiyatan kepadaNya.

Taqwa adalah sebaik-baik pakaian.

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik (QS. 7 ayat 26).

Al libas dalam ayat tersebut berarti pakaian penutup aurat, ini merupakan suatu keharusan. Dan Ar Risy artinya asesoris atau perhiasan sebagai tambahan dari pakaian tadi. Sedangkan Libasut Taqwa artinya pakaian penyempurna baik lahir maupun batin.

Qasim bin Malik dari ˜Auf dari Mabad Al Juhni mengatakan bahwa pakaian taqwa itu adalah al haya atau malu. Ibnu ˜Abbas‚ mengatakan bahwa pakaian taqwa itu adalah amal sholeh, wajah yang simpatik dan bisa juga bermakna segala sesuatu yang Allah ajarkan dan tunjukkan. Ibnu Katsir mengatakan bahwa pakaian taqwa itu adalah berlaku kusyu dalam beramal dan taat. Kesimpulannya bahwa pakaian taqwa itu merupakan suatu yang tampak secara lahir maupun batin dalam bentuk suatu kebaikan dengan keikhlasan dan kekhusyuan dalam beramal

Taqwa adalah sebaik-baik bekal

Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada Ku, hai orang-orang yang berakal (QS 2 ayat 197).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk mengambil bekal dunia (watazawwaduu) maka Allah menunjukkan kepadanya tentang bekal menuju akhirat yaitu taqwa (fainna khairuzzaadit taqwaa). Zamakhsyari rahimahullah menyatakan berbekallah ke akhirat dengan taqwa karena dapat membersihkan kotoran-kotoran (dosa dan kesalahan) kemudian firmanNya (bertaqwalah kepadaKu) artinya takutlah kamu terhadap siksaKu. Dan firmanNya (Hai orang-orang yang berakal) maksudnya bagi orang yang memiliki akal, ia akan tentu berfikir bahwa perkara terpenting adalah taqwa kepada Allah. Dan bagi siapa yang tidak takut pada perkara terpenting ini maka sama artinya bahwa ia tidak mempunyai akal atau tidak berakal.

Dengan memperhatikan perkara penting ini maka ia akan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok dengan taqwa. Bila ia tergerak untuk mempersiapkan diri maka berarti ia telah memenuhi panggilan Allah sebagai orang yang beriman, sebagaimana Allah berfirman dalam Quran surat Al Hasyr ayat 18 yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.

Taqwa adalah kedudukan tertinggi

Ketika dalam diri manusia bercokol bibit sifat kesombongan dan ketakaburan serta sifat ujub maka sulit baginya untuk dapat mencapai derajat taqwa. Terkadang dalam realita bahwa kedudukan seseorang itu ditentukan oleh banyak criteria seperti pangkat, jabatan, kekayaan, banyaknya pengikut, kepandaian, banyaknya gelar kehormatan, kecantikan dan kerupawanan wajah atau bahkan keelokan tubuh yang dapat diumbar dengan seenaknya. Itu sebuah kekeliruan yang sangat fatal. Argumen itu dipatahkan Allah dengan ayatNya dalam Quran surat Al Hujurat (49) ayat 13 yang artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu.

Kita ingat bahwa sungguh Islam telah meninggikan derajat Salman Al Farisyi dan Bilal bin Rabah sebagai sosok budak dan telah menurunkan kemuliaan berupa kehinaan Abu Lahab karena kekufurannya. Hai ini diperjelas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dinyatakan bahwa : sesungguhnya seutama-utama manusia denganku adalah orang-orang yang taqwa, siapapun dan bagaimanapun keadaan mereka".

Taqwa adalah merupakan suatu proses

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (Qs. Ali Imron (3) ayat 102)

Jika seorang ingin mencapai derajat taqwa mustahil ia dapatkan dalam waktu yang sekejap melainkan melalui proses yang sangat panjang dengan izin Allah. Allah pun tidak melihat hasil melainkan proses melalui ujian-ujian yang diberikan pada hambaNya baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, kelonggaran maupun kesempitan dan sebagainya. Allah pun memberikan keluasaan untuk memilih bagi hambanya dua jalan yang terbentang dihadapannya berupa jalan fujur dan taqwa sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Asy Syam (91) ayat 8. Ketika seorang memilih jalan fujur maka jalan menuju taqwa akan terhambat bahkan tertutup. Dan jika memilih jalan taqwa berarti segala proses, jalan-jalan menuju ketaqwaan akan ia tempuh, bagaimanapun beratnya perjalanan. Sebagaimana perjalanan Salman Al Farisyi dan Abu Dzar Al Ghifari mencari hidayah Allah. Setelah mereka mendapatkan hidayah Allah kemudian mereka mempertahankan hidayah itu dengan usaha ikut berjuang mengembangakan dan meyebarkan Islam ke penjuru dunia.

Atau kisah seorang pembunuh 100 orang yang bertaubat kepada Allah. Ia mendapatkan suatu nikmat ketaqwaan dengan diampuninya dosa dan kesalahannya oleh Allah SwT melalui proses yang sangat panjang. Sebagai pengingat pula bahwa bila seseorang memilih jalan proses ketaqwaan maka ia akan berusaha sekuat mungkin untuk tetap konsisten dalam jalan ketaqwaan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi : Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada Semoga kita termasuk orang yang melakukan proses ketaqwaan sehingga benar-benar mendapatkan kedudukan taqwa di sisi

Taqwa adalah jalan keluar

Adalah suatu hal yang sangat diharapkan oleh setiap manusia bahwa segala sesuatu urusan yang dilalui selalu lancar tanpa hambatan. Tetapi sudah merupakan suatu sunatullah bahwa mustahil untuk mendapat sesuatu tanpa perjuangan. Perjuangan, hambatan, gangguan dan apapun bentuknya merupakan bagian dari ujian untuk mendapatkan sesuatu. Seorang ingin lulus sekolah harus melalui ujian, seorang ingin masuk sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan harus melalui tahapan tes yang melelahkan.

Adapun orang yang berakal dan beriman taqwa merupakn suatu pilihan jalan keluar. Banyak cerita ketika seorang telah menyatakan diri Islam, beriman dan bertaqwa maka ada suatu bentuk kabar gembira yang diberikan Allah seseuai dengan janjiNya. Sesulit apapun hambatan pasti ada jalan keluar. Ketika ia memilih jalan ketaqwaan maka ia tidak akan mengalami kerugian. Allah telah berjanji dengan janji yang benar dan tidak akan pernah ingkar janji, karena Allah Maha Menjaga Janji. Janji Allah tertulis dalam kitab yang suci Al Quran surat Ath Thalaq (65) ayat 2 yang artinya : Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikan rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkanNya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. Subhanallah

*(Dari hamba yang dhoif dan banyak maksiyat yang selalu bermohon ampunan dariNya)

Disadur dari : Al FURQON

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar